Batu Kumbang, Wisata Seru dan Kekinian di Bengkulu

BENGKULU – Batu Kumbang merupakan salah satu destinasi wisata di provinsi berjuluk ”Bumi Rafflesia”. Objek wisata satu ini menghadap samudera hindia. Mempesona, memanjakan mata. Indah.

Objek wisata dengan pasir putih ini terletak di kabupaten Mukomuko. Desa Pulau Baru kecamatan Ipuh, persisnya.

Aroma laut yang khas tentu akan membawa nuansa berbeda ketika berada di destinasi satu ini. Sejauh mata memandang, pengunjung akan disuguhi panorama alam nan mempesona. Pasir putih dan halus, misalnya.

Di tambah ratusan pohon cemara laut, menjulang tinggi di sepanjang garis pantai membuat siapa saja betah berlama-lama. Tak heran, jika pantai satu ini menjadi salah satu icon destinasi wisata andalan kecamatan Ipuh.

Pagi itu, sinar matahari, hangat. Langit nitrogen dengan birunya yang ternama menyinari desa Pulau Baru kecamatan Ipuh. Termasuk di kawasan pantai Batu Kumbang. Saban hari destinasi ini ramai pengunjung.

Mereka sebagian besar dari kalangan generasi millennials. Mereka ingin menghabiskan waktu dengan menikmati pemandangan alam nan indah. Tak ada kata bosan.

Sesekali di ujung pantai, muara sungai batang muwar. Perahu berukuran kecil mendarat. Di lokasi itu menjadi dermaga bagi nelayan desa setempat untuk mendarat setelah melaut.

”Pantai ini dijadikan salah satu tempat pendaratan penyu,” kata Ketua Kelompok Pecinta Alam Konservasi Penyu Mukomuko (KPA-KPM) desa Pulau Baru kecamatan Ipuh kabupaten Mukomuko, Edi Suswanto, pekan lalu.

Pelepasliaran tukik di tepi pantai Batu Kumbang.

Lokasi Pendaratan Penyu
Destinasi yang berjarak sekira 189 kilometer (KM) dari kota Bengkulu provinsi Bengkulu ini merupakan lokasi pendaratan empat jenis penyu atau ‘katung’ (bahasa Bengkulu).

Penyu hijau (Chelonia mydas), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), contohnya. Empat jenis penyu itu rutin membuat sarang untuk bertelur.

Tak jauh dari tepi pantai. Berjarak sekira 75 meter. Berdiri sebuah bangunan permanen. Rumah singgah penyu. Di bangunan itu dijadikan tempat penangkaran tukik atau bayi penyu.

Penangkaran penyu tersebut berdampingan dengan rumah pasangan suami istri (Pasutri), Edi Suswanto dan Siti Juariah beserta anaknya M Aditya Meisefandi. Pasutri itu relawan pelestari penyu.

Mereka berdua dan delapan masyarakat setempat tergabung dalam Kelompok Pecinta Alam Konservasi Penyu Mukomuko (KPA-KPM) desa Pulau Baru kecamatan Ipuh. Penangkaran penyu sudah berlangsung sejak 2015 hingga saat ini.

Selama empat tahun terakhir. Terhitung sejak 2015 hingga 22 Mei 2019, telur tukik sudah lahir ke dunia sebanyak 10.107 ekor tukik. Dari angka itu tidak kurang dari ribuan tukik sudah dilepasliarkan ke pantai Batu Kumbang desa Pulau Baru.

Rinciannya, di tahun 2015, tukik lahir ke dunia sebanyak 1.583 ekor, 2016 sebanyak 1.939 ekor, pada tahun 2017 sebanyak 1.821 ekor, lalu di tahun 2018 sebanyak 3.011 ekor dan hingga 22 Mei tukik lahir ke dunia sebanyak 1.753 ekor.

Sebelum dilepasliarkan, tukik di tangkar terlebih dahulu hingga umur satu minggu hingga 3 bulan. Tukik yang dilepasliarkan itu mulai dari tukik sisik, lekang, hijau dan tukik belimbing.

”Sebelum dilepasliarkan, tukik atau bayi penyu di rawat di rumah singgah penyu,” sampai Edi.

Pelepasliaran tukik di tepi pantai Batu Kumbang desa Pulau Baru kecamatan Ipuh Kabupaten Mukomuko

Ratusan Tukik Dilepasliarkan
Setiap tahun KPA-KPM selalu memperingati hari penyu internasional yang jatuh pada 23 Mei. Sama halnya dengan tahun ini. Perangkat desa dan masyarakat melepasliarkan tukik jenis penyu Lekang (Lepidochelys olivacea).

Pelepasliaran tuukik itu di tepi pantai Batu Kumbang, desa Pulau Baru kecamatan Ipuh kabupaten Mukomuko. Di mana tukik yang dilepasliarkan berumur 3 minggu hingga satu bulan.

Tukik itu sebelumnya di rawat di rumah singgah penyu. Ratusan tukik itu merupakan bagian dari ribuan tukik yang ditangkarkan dalam beberapa bulan terakhir di daerah itu.

”Ada ribuan tukik yang masih kami tangkarkan. Ratusan ekor tukik yang dilepasliarkan ini jenis lekang,” kata Edi, pekan lalu.

Tukik dipenangkaran penyu di kawasan pantai Batu Kumbang dapat dijadikan icon kabupaten Mukomuko. Untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara ke Ipuh. Namun, kondisi tersebut musti adanya dukungan dari pemerintah daerah Mukomuko.

Perhatian itu mulai dari adanya perhatian untuk anggota hingga papan larangan untuk pemburuan telur penyu di sepanjang pantai di kecamatan Ipuh.

”Sampai saat ini belum ada sama sekali perhatian dari pemerintah. Sementara di Ipuh memiliki potensi wisata yang dapat menarik kalangan wisatawan untuk berkunjung. baik itu penangkaran penyu hingga pantai Batu Kumbang,” sampai Edi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!